Skip to main content
Tepo tahu Ngawi

Ngawi Kota Ramah

Ngawi, Kota kecil di ujung barat Propinsi Jawa Timur. Letaknya yang berada dalam simpang batas kebudayaan menjadikannya lebih unik dalam hal berbudaya. Kota Ramah ini termasuk dalam salah satu kabupaten yang berada dalam lingkup budaya Jawa Mataraman. Masyarakat Jawa Mataraman mempunyai pola hidup seperti masyarakat jawa pada umunya, dari segi berbahasapun, meski tidak sehalus masyarakat Surakarta dan Yogyakarta. Masyarakat Jawa Mataraman adalah yang paling mendekati dua kota kiblat budaya jawa tersebut dari segi kehalusan, akan tetapi dalam keseharian ada sedikit perbedaan penuturan bahasa jawa, yang mana ada penekanan dalam salah satu suku kata.

Contoh :

  • Kowe wingi sido dolan nggone Bayu?
  • Byuh…uuuwadooohhhe omahe.
  • Boucah kok kwandanane wuangellle puol!

Penekanan suku kata pertama dalam berbicara itu adalah ciri dari dialek Mediunan.

Selain penekanan, ciri lain dari dialek Mediunan adalah pengulangan subyek.

Contoh :

  • Kowe mau soko ngendi kowe?

Selain itu juga ada kata-kata yang jadi ciri khas, misalnya :

  • Gak dong = belum ngerti
  • Maeng, engke = tadi
  • Pak puh/ bupuh = pakdhe/ budhe
  • Jegeg = capek,kesal
  • Loroi = tegur
  • Mblithuki, geroh = bohong
  • Jingklong = nyamuk
  • Sak = saku
  • Thenguk / lungguh = duduk
  • Tepet = bekas
  • Singgek, giyek = galah
  • Menyok = singkong

 

Itu tadi dari segi bahasa. Dari segi kuliner, kuliner Ngawi banyak terpengaruhi kuliner jawa tengah. Meski rasanya tak semanis makanan jawa tengah. Makanan khas Ngawi salah satunya adalah Tepo tahu.

Tepo tahu

Tepo tahu Ngawi
Tepo tahu © Ari Widodo

Tepo tahu adalah makanan berkuah kecap manis dengan citarasa pedas. Sepiring tepo tahu terdiri dari irisan tepo (sejenis lontong tapi berbentuk persegi dengan agak kerucut dibagian belakang). Potongan tahu pong atau tahu gembos kalau orang Ngawi bilang, lalu irisan kubis, seledri, taburan bawang merah goreng dan kacang. Kemudian disiram dengan kuah kecap bercitarasa pedas.

Masyarakat Ngawi biasa menyantap tepo tahu ini di siang hari, dengan ditemani kripik tempe khas kota ini. Laziz! Pecah! Eits, tepo tahu ngawi, sangat beda jauh dengan kupat tahu yang ada di Solo, karena kupat tahu di Solo bercitarasa manis dan memakai tambahan mie kuning serta irisan bakwan.

 

Wedang Cemue

Kuliner selanjutnya adalah minuman. Kota Ramah punya salah satu jenis wedang terbaik, yap, wedang cemue. Wedang cemue paling pas disajikan saat malam dan musim hujan. Semangkuk hangat wedang cemue,berisi potongan roti tawar, kacang kelici – kacang tanah yang dibuang kulit arinya lalu digoreng- lalu disiram dengan kuah hangat yang terdiri dari rebusan santan, gula tebu dan jahe. Dan ini yang unik, diatasnya ditaburi bawang merah goreng dan daun pandan. Hemmmm, sudah kebayang bagaimana nikmatnya wedang cemue? Empuk lembut roti tawar dipadu dengan renyahnya kacang kelici dan hangat pedas gurihnya santan,  jahe serta sensasi bawang merah goreng dan harumnya daun pandan. Hemmmt, pecah!

Soto

Soto, ya, soto, setiap kota di NKRI ini punya soto. Ngawi juga punya!

Ciri khas soto Ngawi adalah adanya bihun atau soun – mie yang terbuat dari tepung beras- irisan kubis, kecambah atau capar, daun seledri, kripik kentang atau kambangan – di Solo juga disebut klengkam-, disiram dengan kuah kaldu agak keruh berminyak dengan rasa rempah yang kuat  – ini bedanya dengang soto Solo- . Hemmm

 

SGPC (baca, Sego Pecel)

Karena Ngawi berbatasan dengan Madiun – Ibu Kota dari Sego pecel- maka di sini, sarapan  yang paling populer adalah ya ini, Sego Pecel. Apa yang membuat beda, antara pecel Ngawi dan pecel madiun? Semua sama-sama menyajikan aneka sayuran rebus bisa bayam, sawi, kenikir, lembayung dll. Disiram dengan sambel pecel. Sambel pecel Ngawi agak berbeda dengan sambel pecel Madiun dan Solo. Sambel pecel Ngawi, tumbukan kacang tanah gorengnya lebih kasar daripada sambel pecel Madiun, dan rasa kencur nya juga tak begitu kentara, serta lebih pedas daripada sambel pecel Solo.

 

Sambel Tumpang

Meski Kabupaten Kediri adalah Ibukota sambel tumpang – di Boyolali disebut sambel lethok-, Ngawi juga punya dan gak kalah lezat. Sambel tumpang terbuat dari remahan tempe medem atau tempe yang mendekati busuk, bisa juga dicampur tahu, lalu dibumbui dengan bawang,garam, cabe dll. Lalu dimasak, dan disajikan dengan cara disiram di atas sayuran rebus. Hmmm aroma daun jeruknya tak ada duanya.

 

Tempe Keripik

Tempe kripik atau kripik tempe adalah jajanan khas dari Ngawi. Bahkan, selain berjuluk kota Ramah. Ngawi juga berjuluk Kota keripik, karena begitu mendarah dagingnya kota ini dengan olahan tempe satu ini. Begitu banyak dijumpai pengrajin-pengrajin tempe keripik,di desa-desa yang hanya berproduksi ketika ada pesanan, sampai home industri beromset jutaan. Meskipun kota lain juga punya tempe keripik, tapi tempe kripik Ngawi punya cirri khas, hingga ada ungkapan Belum ke Ngawi, kalau belum nyobain tempe keripik”

 

Mungkin itu dulu ulasannya, yang lain menyusul atau silahkan mampir ke Kota Kami, Kota Ramah, Kota Keripik. Aksesnya begitu mudah karena kota ini berada pada jalur tengah pulau jawa yang menghubungkan Surabaya – Jogja via Solo, Surabaya – Semarang via Solo. Atau Kereta Api, bisa turun di Stasiun tersibuk di kota ini, Stasiun Walikukun, yang merupakan gerbang paling barat dari Daerah Operasi (Daop VII MADIUN).

 

*pertamakali dipublis di tentang.ngawi.org

Ari Widodo

Pengagum Gus Mus dan Cak Nun. Bisa ditemui di akun facebooknya Ari Widodo